saya(ng)

dia datang entah dari mana

dalam sadar atau keterlelapan jiwa

di kehampaan atau kesunyian ruang

menyapa angan, merasuki mimpi, menghinggapi kalbu



jarak kenyataan enggan membuatmu berhenti

membisikkan lirih tentang relung keabadian

memeluk erat diantara bayang kesendirian

walau ada dan tidaknya dirimu bukanlah kuasaku



egoku memnuntun kepada ketergantungan

berharap ketenangan selalu hadir dalam riuh ini

memberi kesejukan akan pengapnya laku sosial

kedatangan bayangmu seolah menerangi gelapnya jalan ini



ketiadaan ragamu terganti oleh elok cahayamu

tanpa sapaan dan harapan untuk memiliki

kehadiranmu yang tak pernah bisa kubendung

adalah suatu anugerah 



di tepian jurang hidup dan mati

lewat setapak bait doa syukur ikhlasku

hanya bisa aku titipkan secarik salam rindu

yang menyatukan ihsan kita dalam malakutMu.



Manukan, 13 Desember 2015

Menerka Aku

CAHAYA / ROH

= Aku -> Bashirah (Yang Tahu) -> An Nafs -> Al Insaniyyat

= Aku tau dan memperhatikan dirinya atas perilaku hati, kegundahan, kebohongan, kecurangan, dan kebaikan

= Aku tidak akan bersekongkol dengan perasaan dan pikiran

= Aku jujur dan suci -> setan dan jin tidak bisa menembus alam ini karena sangat dekat dengan Allah sekalipun ia jahat dan kafir.

= Allah menyebut tentang Aku sebagai roh-Ku -> Penghormatan Yang Maha Tinggi.

MANUSIA <=> Al-Qur'an

+ Manusia bisa menilai baik dan buruk adalah hasil dari "kesadaran" perbuatan yang mendahului.

+ Aku yang menjadi subjek atas kesadaran itu -> bersifat langsung dan terlepas dari aktifitas fisik

+ Subjek yang sadar itu -> esensi manusia - nyata ada dan merupakan substansi yang berbeda dari fisik

+ Bukti -> Si Aku mengetahui dengan sadar peristiwa yang dialami pada saat bermimpi disaat tidak ada aktifitas fisik maupun indra yang bisa mengontrolnya.

+ Aku disini menjadi kesdaran ihsan sebagai pengendali syahwat yang mampu menembus alam malakut/amr dan uluhiyah dimana manusia mencapai eksistensi sejati.

+ Malakut/ Amr itu sendiri merupakan realitas -> diluar jangkauan indra dan imajinasi ->tanpa tempat, ruang, dan arah.

 

Menowo, 10 Oktober 2015

Sandaran Anganku

Tak pernah ku pinta kau datang

Dalam kesunyian rindu ini

yang berbisik lirih dalam lubuk hati

Tersenyum menghapes lara sepi

 

Semua hanya tersirat dalam tulisan
Menciptakan khayal untuk dapat bersama
Merangkai cahayamu melukis pelukmu
Berharap angan menjadi nyata

 

Tapi aku tersadar Engkau jauh berada di ujung sana

Yang hanya menyatu dalam bayangan

Wahai Sandaran Anganku..

 

Manukan, 17 Desember 2015

untitled

ketika rindu itu tak pernah bisa kuungkapkan

tentang seberapa sering aku ingin menatapmu

sesingkat masa yang berlalu dengan lirihnya

menyelimuti kelam mesra pertemuan sang sejoli

 

 

pilu rindu

air mata palsuku ini selalu keluar
menangisi kehidupan semesta derita
mencoba untuk mengisi kehidupannya
tanpa tahu harus melangkah darimana

kasih, tidakkah engkau mendengarku?

tak pernah tahu aku arti berangkat
tanpa engkau memulai menjemputku
hingga engkau tunjukkan setapak jalan
yang gelap, sunyi, dan hanya aku

kasih, tidakkah engkau menuntunku?

kulalui jalan ini dengan pelita rindu
ketika mencoba menembus lahudmu
menggumam keras di gua kalbuku
meluruhkan angan di kefanaan aku

kasih, bisakah engkau tetap bersamaku?


                                    mertoyudan, 8 Mei 2016

ibu

dua pertiga malam selalu engkaupaksakan sadar
kokok ayam yang memecah sunyi selalu kau dahului
mengumpulkan segala daya untuk kau nafkahi
siap menyambut Sang Malaikat fajar dengan ketidakberdayaan

oh ibu, malaikatku....
segalaku bergantung keridhaanmu....

ratapan pilu yang kau sembunyikan dalam bilik sukmamu
senyum ikhlasmu yang terlukis indah melayang dalam anganku
mewarnai sunyi kelamnya jalan anakmu menimpa qalbu
menggoreskan tulisan dalam batin untuk mengajarkan kesejatiaan

oh ibu, penuntun hidupku....
naungan rahmatmu, harapanku....


lirih suaramu terngiang jelas memecah telingaku
segala lakumu menitipkan ayat-ayat ketauhidan
menahan lara yang selalu ingin anakmu teriakkan
menepikan kesendiriaan yang menjadi teman sejati raganya

oh ibu, penerang gelapku....
cahayaku berawal dari restumu....

keringatmu mampu kau sulap menjadi kebahagiaan
tetes peluhmu kau biarkan menjadi kesetiaanku
kucuran sayangmu kau berikan tanpa harapan imbalan
ketulusanmu melululantahkan segala kedurhakaanku

oh ibu, sandaran sukmaku....
keselamatanku buah ampunanmu....

wahai para kekasih rahasia Tuhanku
sampaikan salamku yang tak sempat terucap

"mengenalmu, memilikimu, ibu...
adalah anugerah terbesar dan terindah dalam hidupku,
aku sayang engkau, ibu....
terimakasih, ibu....
peluk anakmu selalu terangkai dalam bait-bait doa"

ibu...
ibu...
ibu...
rinduku selalu tersembunyi dan tersimpan
hingga aku menemukanmu, lagi.


                                                 Manukan, 28 November 2015

yang sudah terjadi pasti baik

Hidup selalu memberikan warna bagi setiap insan yang menjalaninya. Tidak pernah ada kehidupan yang stagnant, selau ada perubahan  di setiap jenjang usia yang semakin berkurang.

Terdapat sebuah metodologi hidup yang sangat berpengaruh pada visi atau cara pandang kemanusiaan yang berujung kepada pola mentalitas seseorang. Yang parahnya selalu di’iyakan’ oleh mayoritas kaum intelektual radikal. Ekstrimis kemanusiaan yang tercurah dalam HAM.

Positif-negatif, benar-salah, baik-buruk, hitam-putih, mukmin ataupun kafir. Tentu saja semuanya dapat membedakan arti makna antonim tersebut.Sesuai dapat mempersepsikan sesuai keadaan.Yang paling banyak dipilih itulah yang dianggap kebenaran yang membawa ke dalam peradaban yang seperti diharapkan.

Tapi hal ini berdampak pada pengelompokanatribut kepribadian yang bukannya menyatukan malah berujung kepada bercerai-berai. Perbedaan pendapat selalu terjadi di antara tokoh-tokoh cerdik cendekiawanyang memiliki prajurit yang nilai kesetiannya sebatas nasi bungkus.

Segala yang seudah terjadi tentu saja positif, benar, baik, putih. Karena segala daya dan kekuatan yang terjadi di seluruh jagad raya ini atas kehendak Yang Maha Kuasa. Dan segala ijinnya selalu selalu bersifat mutlak benar.

Jadi jangan kau persepsikan perjalanan 3,5 abad ini sebagai aib atau sesuatu hal yang perlu ditutupi,yang mengakibatkan dendam bangsa terjajah kepada banga penjajah. Justru itu menjadi sesuatu yang baik, positif jika kita bisa menarik hakikat ilmu yang terjadi.

 

Manukan, 28 November 2015

peluh bertepi

Elok sang fajar menyapaku

menyirami semesta menepikan peluh

hadirmu selalu menyatukan insan

antara raga dan sukma yang terurai



selalu ia berbisik luruh menuntunmu

tapi engkau menjadi tuli karena egomu

selalu ia mencahayai dirimu

tapi engkau redupkan dengan nafsumu



ia bersembunyi di balik relung sukmamu

tapi malah semakin engkau sembunyikan

ia sangat sayang kepadamu

tapi engkau menganggap itu dirimu



ia sangat dekat denganmu

tapi engkau mengira jauh dengan ilmumu

bagaimana engkau mau mengenalnya

jika kamu sendiri enggan untuk menganggapnya


                                                   manukan, 5 November 2015

pelukan cahaya temaram

Senja kala itu menampakkan kemuramannya. Seakan mau mencurahkan ait matanya yang turun dari langit. Saat itu Andi tengah bersiap untuk menjemput kekasihnya untuk merayakan hubungan mereka yang telah terjalin selama tujuh belas bulan. Ketika tengah bersiap, tiba-tiba masuklah seekor kupu-kupu hitam pekat masuk ke kamarnya. Tidak seperti biasanya ada kupu-kupu seperti itu. Andi pun berdiam sejenak memperhatikan kupu-kupu itu. Terbang berputar-putar terlihat ingin melirihkan suatu pesan yang tidak dipahami oleh Andi.

 

Ketika sampai di tempat kekasihnya, Andi pun menceritakan kejadian itu.

“Lita, tadi koq aku ngerasain sesuatu yang aneh ya? Tiba-tiba ada kupu-kupu besar dan hitam masuk ke kamarku.”

“Iya pa yank(sapaan Lita kepada Andi)? Ah mungkin cuma perasaanmu saja!”

“Gak tau, tapi coba perhatiin deh, kita juga gak sengaja pakai pakaian serba hitam.”

“Berarti kita sehati.” sahut Lita.

“Eh diluar mending lho, jadi keluar gak? Kalau hujan gimana?”

“Jadi donk yank, uda cantik gini. Nanti pakai mantel aja kalau hujan.”

 

Guyuran hujan pun turun dengan begitu derasnya ketika Andi bersama Lita telah sampai di sebuah cafe. Dengan dentuman petir yang saling bersautan menggetarkan hati seketika itu. Tiba-tiba Andi merasakan kegelisahan atas ibunya, yang pada saat itu tidak bisa ditunjukkan kepada Lita karena ingin menjaga suasana kebahagiaan. Andi memikirkan keadaaan ibunya dirumah yang tengah menderita sakit kanker dirumah yang telah diderita selama dua tahun. Andi lah yang selama itu merawat dan menemani berobat kemana-mana, tempat curhatan ibu, bahkan hanya kepada Andi lah ibunya selalu mengungkapkan rasa sakitnya. Karena Andi merupakan anak sulung dari empat bersaudara, sedangkan adik-adiknya masih kecil, paling besar saja baru seumuran kelas tujuh SMP.

 

Ketika itu Andi hanya bisa berdoa,”jika sakit yang ibu rasakan selama dua tahun ini dapat mengampuni atau paling tidak mengurangi segala dosa yang telah ibu perbuat selama hidupnya, aku pasrahkan segala keputusan yang terbaik di tangan-Mu, Ya Rabb. Karena Engkaulah yang paling mengetahui segala sesuatu yang terbaik bagi hamba-Mu.” Karena menurut Andi pula hanya ada ibu dan Lita yang memperhatikan hiduppnya saat itu. Tapi, itu bukan berarti Andi hanya memperhatikan mereka. Andi juga sangat memperlihatkan kasih sayang terhadap lingkungannya. Jika lingkungan Andi mengacuhkannya atau bersikap seolah tidak adil kepadanya, hal itu bukan menjadi sebuah alasan untuk Andi membalasnya. Justru Andi selalu melihat ke dirinya kenapa lingkungannya bersikap seperti itu.

 

Sepulang acara perayaan hubungannya dengan Lita. Bergetarlah handphone Andi, ternyata salah satu keluarganya menghubungi Andi. TIdak seperti biasanya, Andi merasakan sebuah firasat buruk dan Andi tidak langsung mengangkat panggilan telepon itu karena pasti sedang terjadi sesuatu dirumahnya. Andi menata perasaaannya terlebih dahulu dan bersiap dengan segala kabar yang akan datang. Setelah berkali-kali handphone Andi berdering, akhirnya panggilan telepon itu dijawab.

“Halo, assalamu’alaikum.” jawab Andi

“Mas Andi bisa pulang sekarang? Mama mas Andi gak ada.”

Seketika itu Andi hanya tersenyum sambil menahan dentuman jantung serta membendung derasnya air mata yang ingin mencurahkan perasaannya. Dengan tertahan pilu Andi pun menjawab.

“Iya, bisa. Ini Mas langsung pulang sekarang.”

“Kenapa yank? Ada apa? kok senyum-senyum?” sahut Lita.

“Alhamdulillah ibu uda pulang.”

“Pulang kemana? Maksudnya gimana?” ucap Lita sambil berkaca-kaca matanya.

“Ibu meninggal.”

Suasana mendadak hening dan suara rintihan tangisan Lita terdengar lirih seraya ia berucap tersedak.

“Kamu, ibumu gak ada malah senyum-senyum. Alhamdulillah lagi, bukannya sedih.”

“Aku bersyukur ibu sudah dicukupkan, kapan saja Lita mesti siap jika seorang yang Lita sayang dipanggil kembali oleh yang punya, kita mesti mencoba ikhlas bukannya meratapi. Lagipula aku tidak mungkin menangis didepanmu. Aku pulang ke rumah dulu tak suruh temenku boncengin. Besok pagi aja kamu nyusul ke rumahku. Udah larut malam juga sekarang.”

 

Saat menunggu temannya menjemput, datanglah terang bayangan seseorang disamping Andi seolah ingin memberikan tempat sandaran buat Andi. Setelah Andi memperhatikan betapa terkejutnya Andi ketika ia menyadari kalau bayangan itu Fayla. Iya Fayla, wanita yang dulu pernah dicintai Andi selama bertahun-tahun sebelum merajut kisah bersama Lita. Fayla tiba-tiba hadir menemaninya seakan ingin menghapus sedih yang dialami Andi. Bagaikan angin malam yang ingin membisikkan sesuatu kepada Andi jika semua akan baik-baik saja.

 

Tengah malam dengan hawa dinginnya, dalam perjalan pulang, keringat Andi bercucuran. Tetes air mata yang semula terbendung, keluar seakan menemukan kembali alirannya. Sesampai dirumah, Andi sudah ditunggu sanak saudaranya yang telah berkumpul. Andi bersegera ikut memandikan jenazah ibunya sambil meratap dalam hati,” maafkan aku ibu, Andi belum ada kesempatan untuk membahagiakanmu disini, tapi Andi janji Andi akan terus menjaga amanat ibu hingga kelak dapat membahagiakan ibu di alam sana. Masih muda dan sungguh cantiknya engkau, ibuku.” Pada saat itu, usia ibu Andi baru menginjak empat puluh tahun di usia Andi yang telah berusia dua puluh dua tahun.

 

Sepi. Satu dari dua orang yang memperhatikan Andi telah tiada. Waktu itu hanya tersisa Lita saja yang mengerti akan keadaan Andi. Seminggu setelah ibu meninggal Lita pun lulus sarjana dari salah satu universitas di Yogyakarta. Andi pun berhajat semoga kelak Lita mendapat pekerjaan di Magelang, kota asal Andi. Supaya paling tidak Lita bisa menggantikan peran seorang ibu bagi adik-adiknya dirumah. Segala aktivitas ibadah Andi lakukan agar Tuhan bisa mengabulkan hajatnya tersebut. Tidak lama berselang Lita mendapat panggilan wawancara pekerjaan dari sebuah operator nanti penempatannya antara Yogyakarta atau Magelang.

 

Dan benar, Akhirnya Lita pun diterima dan kebetulan ditempatkan di Magelang. Lita merasa semua itu dicapai atas hasil kerja kerasnya sendiri. Di sisi lain, Andi hanya bisa mensyukuri hajatnya yang dikabulkan oleh Tuhan. Andi pun mengucapkan selamat atas pekerjaaan yang langsung didapatkan tanpa menunggu lama. Tanpa pernah Andi bercerita tentang berapa puluh bahkan ratusan peluh air mata Andi agar Lita bisa lebih dekat dengan keluarganya.

 

Tapi Lita memilih tunggal dikos daripada tinggal dirumah Andi. Andi pun gak memaksa lagipula tempat kerja Lita dengan rumahnya jaraknya juga dekat.

“Yank, kamu kapan nyelesain kuliahmu? ini udah tahun ke enam lho!” tegur Lita.

“Iya, kalau semuanya sudah tenang pasti tak selesain kok, lagian tinggal ngerjain skripsi aja.”

“Pokoknya kamu harus sarjana juga, kalau tidak kamu tahu sendiri akibatnya(putus).”

Andi hanya tersenyum tersipu sambil mengingat pertama kali ia dipertemukan dengan Lita. Pada waktu itu Andi sedang bekerja part time di sebuah cafe. Saat kuliah, Andi bukanlah tipe orang yang hanya mengandalkan segala kebutuhannya selama merantau dengan meminta terus kepada orang tua. Terlebih kalau bisa Andi tidak minta kepada orang tua untuk mencukupi segala kebutuhan dan keperluan perkuliahannya. Sebelum part time di cafe itu, Andi juga pernah bekerja di beberapa tempat seperti Dagadu dan salah satu tempat aksesoris handphone di Ambarukmo Plaza. Andi juga berprinsip jika karena bekerja mengakibatkan IP-nya turun, maka selisih range IP yang turun tadi adalah ilmu yang didapat Andi di luar lingkungan pendidikan.

 

Kembali lagi ke cafe tersebut, saat itu cafe akan membuka gerai baru. Maka akan dibukalah perekrutan pegawai baru. Di saat itulah Andi bertemu dengan dengan Lita. Lita merupakan salah satu calon pegawai yang berhasil lolos seleksi untuk bekerja di bagian barista. Parasnya cantik, murah senyum, tingkahnya lucu, serta mudah bergaul dengan lingkungan baru. Tak heran para pegawai lama banyak yang mendekati dia. Pada awalnya, Andi hanya diberitahu oleh salah seorang temannya kalau ada satu pegawai cantik namanya Lita. Andi hanya merespon seperti tidak ada apapun yang menarik hatinya untuk mencoba maencari tahu tentang Lita. Nunggu waktunya aja, toh nanti juga pasti bertemu, pikir Andi saat itu.

 

Selang beberapa hari, saat cleaning gerai baru, datanglah seorang wanita dengan motor matic. Rambut panjang ikal terurai ketika wanita itu melepas helm-nya. Wajahnya yang cantik pun terpancar layaknya seorang model ketika dia menyapa kami. Behel di giginya terkuak ketika ia menebar senyum manisnya. Dalam hati Andi menebak bahwa ini pasti yang bernama Lita yang ternyata saat itu dia sudah akrab dengan teman-teman Andi. Cuma Andi saja yang pada waktu itu baru bertemu dengannya. Pada waktu istirahat makan, tak sengaja Lita duduk satu meja dengan Andi. Dengan penuh malu, Andi pun mulai mengajak ngobrol Lita.

 

Awal perbincangan itu pun ternyata membuat Andi ingin mengetahui lebih tentang Lita. Benih rindu pun mulai menggerogoti perasaan Andi terhadap Lita. Andi yang pada saat itu begitu mencintai Fayla selama bertahun-tahun mendadak tertutup oleh kehadiran Lita karena tak pernah ada keberanian buat Andi untuk menyampaikan apa yang dirasakannya kepada Fayla. Dan mungkin rasa rindu yang tumbuh kepada Lita hadir karena Andi merasa kesepian. Mencintai tanpa pernah tahu keadaan orang yang dicintai. Hanya mencintai bayang Fayla yang selalu menemani disaat Andi merasa sunyi. Disaat Andi meratap, merasakan sakit, berdoa kepada Tuhannya, seolah bayang Fayla selalu ada disampingnya untuk menemani. Selama itu baik, Andi percaya bahwa itu adalah bayang cahaya yang dikirim oleh Tuhannya. Dan cahaya Fayla itulah yang dicintai Andi.

 

Tapi Lita datang seperti membawa keramaian dalam sunyi hidupnya. Ini bukan berarti Andi telah mencintai Lita, ini lebih karena Andi butuh seorang teman hidup yang mengerti keadaannya. Selang beberapa waktu pun Andi mencoba memberanikan diri untuk menghubungi Lita. Pertama kali Andi memberanikan menyapa lewat DM twitter. Itu pun hanya mengucapkan ‘selamat beristirahat’. Sungguh butuh keberuntungan untuk mendapatkan wanita kalau tipe cowoknya seperti Andi. Takut mengganggu waktu Lita mungkin yang membuat Andi gemetaran. Tapi selang beberapa menit, tak disangka Lita membalas DM dari Andi “selamat beristirahat juga mas :)”. Emot senyum tersebut membuat Andi semakin berani untuk minta nomor hp dan malam pada waktu itu pun berlalu tak terasa sampai Lita tidak membalas sms Andi karena sudah terlelap tidur.

 

Kedekatan Andi dan Lita semakin terlihat tatkala mereka sering main berdua atau berangkat ke tempat kerja bersama walaupun di gerai yang berbeda. Sebenarnya Andi dan Lita pun tak tahu pasti kapan sebenarnya mereka mulai dekat karena mereka menganggap hubungan mereka mengalir begitu saja. Tapi pada awalnya Andi tertarik kepada Lita bukan karena kecantikan Lita. Akan tetapi, Andi melihat ada kegelisahan di balik parasnya, ketidakjelasan arah yang akan dituju oleh Lita. Andi merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan merubah Lita. Walaupun sebenatnya gaya hidup Andi dengan Lita sangat jauh berbeda. Dengan resiko apapun Andi siap untuk menemaninya selama Lita masih mau mengisi kesunyian dan memperhatikan Andi.

 

Selama ibu Andi sakit, Andi harus meninggalkan perkuliahannya dan berjuang untuk membagi waktu kepada orang yang disayangnya. Siang Andi habiskan untuk merawat ibunya sedang malamnya sebisa mungkin Andi ingin menghampiri Lita. Yogya-Magelang tiap hari bukan menjadi sebuah alasan bagi Andi untuk mengeluh atau merasakan capek. Belum lagi terkadang mesti menemani ibunya selama berhari-hari untuk kemotherapy sudah menjadi hal yang biasa bagi Andi. Rumah sakit seakan menjadi rumah kedua bagi Andi dan ibunya.

 

Kepergian ibunya seolah menjadi lembaran baru bagi kehidupan Andi. Lita yang sekarang mulai menuntut kejelasan status pendidikan Andi tanpa pernah ingat bagaimana Andi dulu membangunkannya tiap pagi dan membantu memenuhi tuntutan gaya hidupnya agar Lita dapat menyelesaikan pendidikannya secepatnya supaya tidak membebani orang tuanya. Tapi hal tersebut tak membuat Andi untuk berniat membahas apa yang telah dilakukannya kepada Lita. Inilah ujian yang harus dihadapinya tanpa harus menuntut apapun dan kepada siapapun.

 

Disisi lain, di lingkungan rumah Andi tersebar kabar kalau yang menjadi penyebab ibunya meninggal adalah Andi. Ibunya terlalu memikirkan Andi karena belum selesai pendidikannya dan terlalu mementingka kekasihnya Lita. Ketika Andi mendengar kabar itu tak lantas membuat Andi melakukan sebuah pembelaan terhadap keadaan yang sebenarnya dimana ia selalu bertemu ibunya setiap hari dan di malam harinya disaat Andi tak menemani ibunya, ibunya sering menelepon Andi mencurahkan segala penyesalan dan keluh kesahnya. Bahkan disaat ibunya menceritakan kehabisan dana untuk berobat, Andi pun selalu berusaha mengada-adakan uang yang dibutuhkan ibunya untuk berobat walaupun Andi harus cari pinjaman sana-sini. Merendahkan dirinya sendiri di hadapan orang lain hanya untuk ibunya terkasih. Andi sangat sabar dan ikhlas menerima rumor tersebut karena mereka tidak tahu keadaan sebenarnya. Dengan resiko Andi dipandang sebagai anak yang tidak berbakti kepada orang tua.

 

“Mas… mas…” panggil Reza (adik terbesar Andi).

“Kenapa, Rez?”

“Mas, kenapa ya kalau ada orang kerumah, ayah mesti cerita kalau ibu meninggal gara-gara mas Andi?”

(sesaat Andi terdiam sambil tersenyum)

“Mungkin itu karena mas Andi yang bertanggung jawab kepada ibu.”

“Maksudnya mas?” tanya Reza.

“Sekarang mas tanya, menurut Reza, ibu lebih dekat dengan mas Andi apa ayah?”

“Emmmm… mas Andi lah!”

“Mas gak bisa benar apa salah apa yang dikatakan ayah kepada orang yang datang kerumah. Reza gak usah mikir itu. Yang pasti mas sayang sama ibu lebih dari apa yang ayah dan Reza tahu. Pesen mas Andi, Reza juga m,esti sayang sama ibu dan ayah, dan mesti bisa jaga Bambang dan Tegar (adik Andi kedua dan ketiga) pas lagi gak ada mas, oke?”

Satu-satunya adik cewek Andi dan memiliki badan dari Andi ini pun tiba-tiba meneteskan air mata sambil memeluk kakaknya untuk pertama kali sambil mengatakan, “iya mas, mas Andi yang sabar ya…”

 

Apa yang diceritakan Reza tak lantas membuat Andi membenci ayahnya. Justru sebaliknya, jika hal itu membuat ayahnya bisa terhibur atas meninggalnya istri tercinta, biarlah hal itu mengalir apa adanya walaupun Andi yang menjadi alasan sebab kematian ibunya sendiri menurut ayahnya. Bukan masalah bagi Andi dianggap anak durhaka bagi mereka yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya, yang hanya menilai berdasarkan subjektivitas ayahnya tentang Andi. Hanya Tuhan yang berhak atas segala sesuatu yang vterjadi pada diri Andi. Benar atau salah biar Allah dan waktu yang menjelaskannya.

 

Walaupun tersimpan kenangan, simana sebelum meninggal, ibu Andi pernah menceritakan sesuatu sudah menjadi pertanyaan selama ini buat Andi. Ibu ANdi menceritakan bahwa sesungguhnya ayahnya itu bukan ayah kandungnya. Tidak ada kemiripan fisik antara ayah dan ibunya. Sifat Andi pun sangat jauh berbeda dengan kedua orang tuanya. Pertanyaan Andi pun terjawab tanpa pernah diminta karena mau menanyakannya pun Andi sangat sungkan. Kekerasan, ketidakadilan dan kewajiban sebagai seorang ayah tidak pernah Andi rasakan selama ini. Tapi semua itu tidak membuat Andi membenci ayahnya. Semua bentuk kekerasan ataupun ketidakadilan digambarkan Andi sebagai sebuah bentuk kasih sayang ayahnya. Walaupun terasa tidak menyenangkan dan menyakitkan kasih sayang itu.

 

Kepasrahan Andi terhadap keadaan membuatnya semakin dianggap tidak benar terutama kepada orang-orang yang percaya pada cerita ayahnya kalau Andi lah yang membuat ibunya meninggal. Kedatangan Andi untuk bersilaturrahmi kepada lingkungannya selalu diartikan sebagai kedatangan sorang anak durhaka. Disaat itu Andi cuma bisa berdoa,”Ya Rabb jika ini ujianmu, aku akan terima dengan senyum ikhlasku. Jika niatku bersilaturrahmi kepada lingkunganku selalu diartikan salah bagi mereka, maka aku pasrahkan segala sesuatunya hanya kepada-Mu. Harus tetap bersama atau berpisah. Sebenarnya aku tidak tahu mana yang terbaik bagiku. Hanya Engkaulah yang palimg mengetahui segala sesuatu yang terbaik bagi hamba-Mu ini. Sungguh hanya Engkau Yang Maha Mengetahui serta Tuhan semesta alam.”

 

Bayangan Fayla itu pun datang kembali seolah memegang tangan Andi yang basah oleh tetesan air matanya. Ikut merasakan kesedihan yang dialami Andi. Menemani haru perjalan hidupnya saat itu. “Mengapa engkau yang kesini? Bukannya kekasihku?” tanya Andi. Bayangan cahaya itu pun hanya membalas dengan sebuah senyuman. Dan senyuman itu membuat Andi tersadar jika ia tak boleh larut dalam kesedihan ini. Karena tidak ada manfaatnya juga terlalu larut dalam kesedihan ini. Andi hanya akan semakin lemah jika ia terlarut dan Andi tersadar akan hal itu. “Inilah kasih sayang-Mu.” ucap Andi sambil ikut tersenyum membalasnya.

 

Andi sebenarnya ingin pergi meninggalkan rumah. Akan tetapi, Andi masih memikirkan ketiga adiknya yang masih membutuhkan perhatian. Dengan sikap ayahnya yang seperti itu, lantas tidak membuat Andi untuk menyerah untuk terus memberikan kasih sayang kepada adik-adiknya. Andi harus tidak memperlihatkan kesedihannya setiap kali harus pulang kerumah. Supaya adiknya juga mesti kuat tanpa ada algi kasih sayang dari seorang ibu. Andi harus bisa menggantikan peran seorang ibu. Cuma itu yang menjadi kekuatan Andi untuk bisa menjaga dan mendidik adik-adiknya. Terkadang Lita pun diajak kerumah untuk ikut membantu memberikan hiburan kepada adik-adiknya atau terkadang Andi yang mengajak adik-adiknya main ke tempat Lita.

 

Sampai suatu saat ketika pulang kerumah, Andi tiba-tiba dimintai pendapat oleh ayahnya.

“Andi menurut kamu, keluarga itu apa?” tanya ayahnya.

“Keluarga itu orang tua dan anak-anaknya dan dapat dikatakan sebagai keluarga kecil. Dan semua kerabat yang masih memiliki hubungan darah atau keluarga besar. Tapi pada hakikatnya semua orang itu saudara.” jawab Andi.

“Tidak! Salah! Kalau kamu menjawab seperti itu berarti kamu sama jahatnya dengan saudara-saudaramu!” gertak ayahnya.

“Lha kok bisa?”

“Keluarga itu ya orang tua sama anaknya saja jangan ditambah-tambahi!”

Andi hanya terdiam sambil berpikir,”jika selama ini semua saudara-saudaranya selalu berniat membantu ibuku kenapa ayah bilang jahat kepada mereka, kenapa ayah tidak berterima kasih kepada mereka dan terus menjaga tali silaturrahmi? Kenapa ayah bilang jahat dan menyamakan aku dengan saudara-saudaraku yang selama ini menjaga dan mengasihi ibuku?”

“Owalah… punya anak besar sendiri kok ya ternyata sama jahatnya! Sudah mulai sekarang aku lebih baik gak ngomong sama kamu dan gak nanya-nanya lagi sama kamu! Atau lebih baik jika kamu pergi sekalian dari rumah ini dan tidak usah kembali lagi!” lanjut ayahnya.

 

Andi yang ketika itu sedang bermain bersama adik-adinya, mendadak meneteskan air matanya. Andi hanya bisa terdiam karena dia menaruh rasa hormat dan sayang kepada ayahnya. Seketika itu pula tanpa berpikir panjang Andi pergi ke kamarnya untuk merapikan barang-barangnya untuk menuruti kenginan ayahnya yang menginginkan Andi pergi dari rumah. Setelah itu Andi kembali lagi ke tempat adik-adiknya.

“Mas mau kemana? ” tanya Tegar.

“Mas mau pergi sebentar ya?” izin sang kakak.

“Kok bawa barang banyak?”tanya Bambang.

“Lha buat ganti mas to, lagian ini sedikit kok.” jawab Andi sambil menahan air matanya.

“Kalau mas Andi lagi gak dirumah jangan pada nakal lho ya? Yang nurut sama ayahayah ditemenin, jangan pada main terus, oke? Ini hp mas buat mba Reza, yang BB buat Bambang, Tegar gak usah ya kan uda punya hp bagus. Mas pake hp-nya ibu aja.”

“Tapi kan gak bisa buat internetan mas?” sahut Tegar.

“Hahaha… gapapa, yamg penting besok kalau mas sms dibales lho ya, kan uda pada punya hp.”

Andi pun memeluk mereka bertiga sambil berpamitan pergi.

“Kok nangis mas?” tanya Tegar.

“Itu tadi kena rambutnya mba Reza.” jawab Andi sambil mengusap air matanya.

 

Andi pun pergi meninggalkan rumah dengan berat hati. Karna Andi tahu mungkin dia akan pergi dalam waktu yang lama. Bayangan cahaya Fayla pun sudah ada dibelakang Andi menemani kepergiannya. Mencoba ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Andi. Mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap kepala Andi. Tapi pada saat itu Andi hanya diam seolah ia tak merasakan bayangan Fayla. Tapi di dalam hati, Andi pun ingin mengiucapkan terima kasih kepada Fayla yang selalu datang ketika dirinya dirundung kegelapan.

 

Terbesit pikiran buat Andi untuk menitipkan barang-barangnya sementara di tempat Lita. Ya, cuma tinggal Lita harapan terakhir bagi Andi yang mengerti cerita kehidupannya. Karena cuma kepada Lita, Andi bisa menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Tapi Lita sudah tidak seperti Lita yang dulu dikenalnya, Lita berubah semenjak ia sudah bekerja. Yang biasanya mau mendengarkan, sekarang setiap Andi bercerita dia hanya sibuk dengan hp barunya yang belum lama dibelikan Andi sebagai hadiah wisudanya serta ungkapan rasa syukurnya karena Lita sekarang juga tinggal di Magelang.

 

Tak cuma itu, Lita bukannya memberi tanggapan atau perhatian, tapi yang terucap dari mulut Lita cuma sekedar minta tolong,”pijitin dong! Capek ini habis kerja” sambil menyodorkan kakinya dan tetap sibuk memegang hp-nya. “Selama Lita masih menganggap aku, walaupun aku sudah bukan siapa-siapa baginya, aku akan melakukan yang terbaik baginya selagi aku bisa.” Itulah bentuk kasih sayang Andi kepada Lita. Bahkan dia lebih menyayangi Lita daripada menyayangi dirinya sendiri.

 

Sampai suatu ketika Lita berbicara kepada Andi. Lita menceritakan kalau dia ingin sekali mencari pekerjaan yang lebih bagus. Yang seragamnya lebih rapi. Paling tidak kerja di bank seperti apa yang papa Lita inginkan.Lagian Lita merasa bosan d Magelang, kotanya sepi.

“Kenapa kamu gak bersyukur dulu atas apa yang kamu capai sekarang? Banyak yang masih susah mencari pekerjaan, ksmu sudah dikasih pekerjaan langsung setelah wisuda sekarang malah ingin lebih. Mungkin rejekimu juga masih disini.” kata Andi.

” Makanya kamu tuh mesti ngerasain punya orang tua! Biar tau apa yang orang tua pingin!” Lita menggertak.

” . . . . . ” seakan hati Andi tertikam belati oleh orang yang dianggap paling dekat selama ini.

Saat itu pula Fayla datang memeluk Andi dari belakang, seolah ingin menutup luka tikaman dan membius sakitnya hati Andi.

“Fayla mengapa kamu terus melakukan ini kepadaku? Sedang untuk menggapaimu saja aku tidak pernah bisa. Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu? terang Andi dalam hati.

“Aku juga tidak tahu mas, selalu ada yang menarikku ke dekatmu mas.” kata Fayla.

“Tolong sampaikan terima kasih kepada yang menarikmu.”

“Bagaimana aku bisa menyampaikannya jika yang menarikku ada di dalam diri mas sendiridan cuma mas yang mengetahuinya.” terang Fayla.

“Aku?”

 

Setelah kepergian Andi dari rumah, Andi selalu menghabiskan malam hari di jalanan, menjadi gelandangan di kota sendiri. Mencoba memahami dirinya sendiri dengan segala apa yang ada di dunia ini dan apa hubungannya semua itu dengan Tuhannya. Kehidupan malam yang bagi masyarakat modern terkesan negatif. Tapi bagi seorang Andi, malam hari merupakan saat dimana ia harus menemukan sesuatu. Sesuatu yang mencoba untuk mengenali siapa hakikat dirinya sebenarnya? Mengapa ia tidak bisa marah? Mengapa ia tidak bisa membalas ketidakadilan yan menimpanya dengan membuat sebuah pembelaan? amengapa ia hanya bisa pasrah? Mengapa aku?

 

Malam-malam selalu Andi habiskan di mushola Pom, warnet, masjid serta pasar-pasar dimana di setiap tempat itu pasti ada orang-orang yang menurut Andi sedang berjuang untuk mencari nafkah demi mencari sesuap nasi untuk keluarganya. Seolah tempat-tempat itu menjadi rumah baru Andi untuk belajar mengenai kehidupan, belajar untuk mensyukuri keadaannya dan belajar untuk juga memperhatikan orang-orang yang disaat kebanyakan orang sedang tertidur. Terdapat orang-orang yang sedang berjuang mencari nafkah di balik layar. Untuk menopang kehidupan pada saat matahari mulai terbit. Untuk mempersiapkan segala kebutuhan aktivitas manusia disaat matahari menyinari buminya.

 

Andi merasa betapa sempit pemikirannya selama ini tentang hidup. Andi mulai merasakan bahwa ia tidak bisa marah karena memang di luar sana masih banyak orang-orang yang lebih berhak untuk marah karena hak-haknya dirampas birokrasi penguasa yang mengatasnamakan negara. Andi tidak bisa membahas ketidakadilan yang menimpanya karena Tuhan pun membiarkan manusia melupakan kasih sayang-Nya, hanya menuju pada ciptaan-Nya(dunia) dan takut bukan karena Tuhan, melainkan karena akhirat-Nya(neraka). Jika Tuhan pun membuat suatu pembelaan atas ketidakadilan tersebut. Maka pasti sudah dihancurkan-Nya dunia ini dan segala ciptaan-Nya.

 

Fayla, sepercik cahaya yang selalu menemani dalam gelap malam yang dilalui Andi. Selalu membawa kehangatan untuk menyusuri dinginnya malam, selalu membawa keindahan untuk menghibur dalam curamnya jalan kehidupan Andi. Tapi tidak ada prasangka atau niat sama sekali bagi Andi untuk mencari keberadaan Fayla sekarang. Andi hanya percaya jika memang sudah waktunya dengan izin-Nya, pasti juga dipertemukan lagi dengan Fayla. Bagi Andi, cahaya Fayla hadir bukan karena keinginannya. Akan tetapi, Fayla hadir disaat Andi ingat Tuhannya.

 

Dalam kesunyiannya, Andi seakan memperoleh ilham, untuk merangkai kasih sayang Tuhan ke dalam bentuk ilmu. Andi sadar jika peristiwa yang selama ini menerpanya merupakan salah satu bentuk kasih sayang Tuhan kepada Andi. Ibarat biji buah-buahan, tidak ada biji yang enak dimakan. Pasti keras kalau tidak ya biji itu pasti rasanya pahit. Tapi dari biji yang keras dan pahit itu dapat tumbuh pohon-pohon baru yang menghasilkan lebih banyak buah lagi yang manis. Andi merasa mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan ilmu itu.

 

LIta semakin gerah dengan keadaan Andi yang hanya sibuk membaca dan menulis sesuatu yang menurut Lita tidak ada manfaatnya sama sekali.  Lita berpikiran kalau menyelesaikan pendidikan lebih penting daripada apa yang Andi lakukan sekarang karena tidak menghasilkan uang pula.

“Ini barang-barangmu mau sampai kapan disini? Malu tau aku sama teman-teman kos, kerjaanmu cuma baca sama nulis puisi gak jelas!” Lita marah.

Tapi tiap aku disini juga mesti ngerapiin kamarmu, nyuci bajumu, nyiapin seragammu, bahkan kalau sempat aku juga sering siapin masakan buat kamu.” lirih Andi.

“Mulai sekarang kita bukan siapa-siapa lagi dan kapan kamu mau angkutin barang-barangmu?”

“Secepatnya. Aku cuma pesen walaupun kita sudah bukan siapa-siapa lagi itu bukan berarti memutus tali silaturrahmiki kepadamu.” jawab Andi.

Lita pun cuma diam dan seperti biasanya hanya sibuk dengan hp-nya.

 

Sebenarnya terlalu berat buat Andi jika harus kehilangan Lita. Sebab dari awal Andi hanya merasa cuma ada dua perempuan yang selalu memberi perhatian langsung kepadanya. Ibunya dan Lita. Ibunya telah lama dipanggil kembali oleh Tuhannya, sedangkan sekarang Andi juga mesti kehilangan perempuan terakhir yang terasa hanya dimiliki oleh Andi.

“Sungguh nikmat kasih sayang-Mu, aku percaya ini keputusan-Mu dan jalan terbaik untukku.”

Fayla datang dengan menggenggam tangan Andi seraya berkata.

“Semua bakal baik-baik saja mas.”

“Sekarang aku mengerti, aku tidak bisa memaksa keadaan, aku tidak bisa merubah seseorang ke jalan yang semestinya. Aku sadar aku bukanlah apa-apa dan aku bukan siapa-siapa. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan atas izin-Nya.”

“Lalu untuk apa kamu hidup?”

“Untuk mencari ridho-Nya, beribadah kepada-Nya, dan sebisa mungkin menjadi anugerah bagi semesta alam.”

“Sungguh kamu telah mengenal Tuhanmu mas.” terang Fayla sambil tersenyum.

 

Entah kenapa senyum Fayla selalu bisa menjadi penghapus dahaga bagi batin Andi. Membuat Andi lupa akan apa yang baru saja dialami dengan Lita. Walaupun mulai sekarang harus sendiri, Andi yakin jika ada Tuhan yang selalu menemaninya. Tidak ada kata menyerah bagi Andi untuk berhenti membaca, menulis, serta menyampaikan ilmu yang diperolehnya. Dan Andi seakan sudah siap untuk menghadapi masalah-masalah yang akan ditemuinya lagi kedepan.

 

Peristiwa-peristiwa yang pernah dialami oleh Andi, dari kematian ibunya, prasangka buruk dari ayahnya yang notabene adalah keluarga terdekatnya, hingga dipisahkan dengan Lita, semua itu menjadi berkah buat Andi. Seakan itu semua cara Tuhan mununjukkan kasih sayang-Nya. Tanpa semua itu mungkin Andi tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Menjadi guru sejati yang tidak butuh kelas untuk mengajar tanpa harus menuntut gaji dari siapapun. Biar Allah yang membagi Rizki-Nya.

 

Hingga dalam suatu diskusi, Andi diundang oleh temannya. Dan kali ini Andi benar-benar terkejut seperti sedang bermimpi ketika Andi melihat disitu ada Fayla. Seseorang yang selama ini menemani hidupnya dalam cahaya, mengusap keringatnya, menghapus lelahnya, dan membius lukanya. Dalam benak Andi ingin sekali menyampaikan rasa terima kasihnya dan meminta izin kepada Fayla agar cahayanya tetap tinggal bersama Andi. Tapi apa daya, menatap Fayla saja Andi tak sanggup. Seolah kebahagiaan yang dia rasakan karena sudah bertemu desosok sjati Fayla, itu sudah cukup. Ini juga baru perjumpaannya setelah bertahun-tahun berpisah.

 

Seperti mengambil tiket antrian, Andi hanya bisa menunggu kesempatan lagi untuk diizinkan bersilaturrahmi lagi dengan Fayla secara langsung sekaligus mengungkapkan rasa terima kasihnya. Tapi sungguh, memandang sosok sejati Fayla sudah lebih dari cukup buat Andi.

“Sungguh elok jika aku mengenal-Mu, Ya Rabb. Semua ini terasa Engkau selalu memelukku. Ingin sekali jika aku bisa dan sanggup, aku ingin membalas Pelukan-Mu.”

melihat masa

untuk merangkai ilmu-Mu

merasakan cahaya-Mu, mengenal ilmu-Mu

Dunia bukan lagi tempat yang nyaman

manusia berlarian menjauh dariku



tapi, disinilah takdirku

melihat masa, menghinggapi ruang

memikul hawa nafsu

menunggu panggilan sejati



kebencian, kasih sayang

ketidakadilan, kebersamaan

kelaknatan, kesucian

semua kuserahkan pada-Mu


                                             Tambakboyo, 20 Oktober 2015